(Foto: Harakatuna.com)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum ust ismidar. Saya M Saifudin asal Pasuruan Jawa Timur. Saya mau bertanya ust, tapi pembahasannya lebih ke kebutuhan saya, bukan masyarakat scr umum. Saya penghulu kua, mempunyai banyak sekali pertanyaan fiqh yg masih mumet di kepala. Misalnya, syarat saksi, jumhur ulama mensyaratkan saksi harus paham bahasa aqidain, misal wkt aqad pake bhs arab. Nah, di lapangan, saya kesulitan kalau menerapkan ini, mencari saksi yg betul betul paham bahasa arab, apalagi kalau disertai syarat adalah, makin susah 😅 barangkali ada solusi ust, terimakasih
[𝗠𝗼𝗰𝗵𝘀𝗮𝗶]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
Memang, saksi Disyaratkan paham bahasa yang diucapkan saat Ijab qabul dan seandainya saksi tidak paham makna ijab Qabul maka akad nikah tidak sah kecuali sebelum ijab Qabul dimulai saksi diberitahu makna ijab Qabul asal jaraknya tidak lama menurut penilaian umum. Jadi, agar akad nikah sah saksi harus diberi tahu makna ijab Qabul sebelum akad nikah dimulai dan jika tidak maka akad nikah tidak sah.
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Saksi Disyaratkan paham bahasa yang diucapkan pada ijab Qabul, sehingga saksi tidak paham maknanya maka akad nikah tidak sah jika akad nikah sudah selesai tapi kalau saksi diberitahu makna ijab Qabul sebelum akad nikah maka akad nikah sah asal jarak diberi tahu dan ijab Qabul tidak lama menurut penilaian umum.
𝗦𝗢𝗟𝗨𝗦𝗜
Bila akad nikah menggunakan bahasa Arab dan misalnya saksi bukan orang arab yang tidak paham makna ijab Qabul maka saksi harus diberi tahu makna ijab Qabul sebelum akad berlangsung asal jarak diberi tahu dan ijab Qabul tidak lama menurut penilaian umum.
𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:
(قَوْلُهُ: وَمَعْرِفَةُ لِسَانِ الْمُتَعَاقِدَيْنِ) مَعْطُوفٌ عَلَى أَهْلِيَّةِ شَهَادَةٍ فِي الْمَتْنِ، لَا عَلَى حُرِّيَّةٍ، كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ، أَيْ وَشُرِطَ مَعْرِفَةُ الشَّاهِدَيْنِ لِسَانَ الْمُتَعَاقِدَيْنِ الْمُوجِبِ وَالْقَابِلِ، فَلَا يَكْفِي إِخْبَارُ ثِقَةٍ لَهُمَا بِمَعْنَى الْعَقْدِ. قَالَ ع ش (عَلِيٌّ الشِّبْرَامَلِّسِيُّ): لَكِنْ بَعْدَ تَمَامِ الصِّيغَةِ، أَمَّا قَبْلَهَا بِأَنْ أَخْبَرَهُ بِمَعْنَاهَا وَلَمْ يَطُلِ الْفَصْلُ فَيَصِحُّ.
“(Perkataan Pengarang: "Dan mengetahui bahasa kedua belah pihak yang berakad")
Frasa ini di-athaf-kan (disambungkan) kepada frasa "kelayakan kesaksian" (ahliyyatu syahadah) yang ada di dalam teks utama (matan), bukan kepada kata "kemerdekaan" (hurriyyah), sebagaimana yang tampak jelas. Artinya, disyaratkan bagi dua orang saksi untuk memahami bahasa yang digunakan oleh dua pihak yang berakad, yaitu pihak yang mengucapkan ijab (mujib) dan pihak yang mengucapkan kabul (qabil). Oleh karena itu, tidaklah cukup jika hanya berdasarkan informasi dari seseorang yang tepercaya (tsiqah) kepada kedua saksi tersebut mengenai makna akad (jika saksi sendiri tidak paham bahasanya). Ali Syibramalisy berkata: Namun, (ketidakcukupan informasi tersebut) adalah jika informasi diberikan setelah sempurnanya sighat (ucapan akad). Adapun jika orang tepercaya tersebut memberitahukan maknanya sebelum akad diucapkan dan jarak waktunya tidak lama, maka akadnya dianggap sah”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin III/299]
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>
