2159. HUKUM AQIQAH BAYI YANG MENINGGAL

(Foto: Tiktok)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Asalamualaikum mau bertanya ada seorang istri melahirkan anak,,anak nya sehat, setelah satu minggu anak nya mati, apakah anak itu harus di aqiqah an oleh orang tuanya?
[𝗿𝗶𝗳𝗮𝗹]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Bayi yang meninggal setelah lahir ke dunia dan setelah memungkinkan melakukan penyembelihan hewan; dengan gambaran: Setelah lahir tidak meninggal seketika Disunahkan diaqiqahi walaupun meninggalnya sebelum hari ketujuh. Namun, bila tidak memungkinkan melakukan penyembelihan hewan, dengan gambaran: Baru lahir langsung meninggal maka tidak sunah diaqiqahi, demikianlah yang ditetapkan dalam Madzhab Syafi'i.

𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡

Oleh karena di diskripsi pertanyaan menyebutkan bayinya meninggal setelah hari ketujuh maka sunah diaqiqahi bagi orang tuanya yang mau mengadakan aqiqah.

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

وَيُسَنُّ أَنْ يُعَقَّ عَمَّنْ مَاتَ بَعْدَ التَّمَكُّنِ مِنَ الذَّبْحِ، وَإِنْ مَاتَ قَبْلَ السَّابِعِ.
“Dan disunnahkan untuk diaqiqahi bagi anak yang mati setelah adanya kemampuan (waktu) untuk menyembelih, meskipun ia mati sebelum hari ketujuh (dari kelahirannya)”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II /382]
 
(قَوْلُهُ وَإِنْ مَاتَ) قَالَ فِي الْعُبَابِ وَيَعُقُّ عَمَّنْ مَاتَ بَعْدَ السَّابِعِ وَأَمْكَنَ الذَّبْحُ لَا قَبْلَ السَّابِعِ أَوْ التَّمَكُّنِ مِنْ الذَّبْحِ قَالَ الشَّارِحُ فِي شَرْحِهِ عَلَى مَا اقْتَضَاهُ كَلَامُ الرَّوْضَةِ وَأَصْلُهَا وَاعْتَمَدَهُ فِي الْكِفَايَةِ لَكِنَّ الْمَجْزُومَ بِهِ فِي الْمَجْمُوعِ أَنَّهُ يَعُقُّ عَنْهُ وَإِنْ مَاتَ قَبْلَ السَّابِعِ وَقَوْلُ الْأَذْرَعِيِّ يَبْعُدُ نَدْبَهَا عَمَّنْ مَاتَ عَقِبَ الْوِلَادَةِ أَوْ قَبْلَ السَّبْعِ وَلَعَلَّ مَا فِي الْمَجْمُوعِ سَبْقُ قَلَمٍ مِنْ بَعْدُ إلَى قَبْلُ اهـ لَيْسَ فِي مَحِلِّهِ إذْ سَبْقُ الْقَلَمِ لَا يُقَدَّمُ عَلَيْهِ بِالتَّرَجِّي وَإِنَّمَا غَايَةُ الْأَمْرِ أَنَّ فِي الْمَسْأَلَةِ خِلَافًا جَرَى فِي الرَّوْضَةِ عَلَى وَجْهٍ مِنْهُ وَجَرَى عَلَيْهِ فِي الْمَجْمُوعِ هُنَا لَكِنَّهُ فِي آخِرِ الْبَابِ جَرَى عَلَى مُقَابِلِهِ فَقَالَ لَوْ مَاتَ الْمَوْلُودُ قَبْلَ السَّابِعِ اُسْتُحِبَّتْ الْعَقِيقَةُ عِنْدَنَا خِلَافًا لِلْحَسَنِ وَمَالِكٍ فَقَوْلُهُ عِنْدَنَا فِي مُقَابَلَةِ هَذَيْنِ الْإِمَامَيْنِ صَرِيحٌ فِي أَنَّ هَذَا هُوَ الْمَذْهَبُ انْتَهَى اهـ سم عِبَارَةُ الْمُغْنِي وَالْأَسْنَى وَالنِّهَايَةِ وَيُسَنُّ أَنْ يَعُقَّ عَمَّنْ مَاتَ قَبْلَ السَّابِعِ وَبَعْدَ التَّمَكُّنِ مِنْ الذَّبْحِ اهـ.
“(Perkataan Pengarang "Dan meskipun ia mati") Ibnu Hajar al-Haitami berkata dalam kitab al-Ubab: "Dan disunnahkan aqiqah bagi anak yang mati setelah hari ketujuh serta memungkinkan untuk dilakukan penyembelihan; tidak disunnahkan jika mati sebelum hari ketujuh atau sebelum adanya kemampuan (waktu) untuk menyembelih". Pensyarah (Imam Ibnu Hajar) berkata dalam syarahnya: "Ini berdasarkan apa yang dikehendaki oleh redaksi kitab ar-Raudhah dan asalnya (al-Aziz/al-Wajiz), dan pendapat inilah yang dijadikan pegangan dalam kitab al-Kifayah". Akan tetapi, pendapat yang dipastikan (yang kuat) dalam kitab al-Majmu’ (karya Imam Nawawi) adalah: "Bahwa tetap disunnahkan aqiqah untuk anak tersebut meskipun ia mati sebelum hari ketujuh".

Adapun perkataan Imam al-Adzra'i: "Tampaknya jauh dari hukum sunnah (tidak sunnah) akikah bagi anak yang mati persis setelah dilahirkan atau sebelum hari ketujuh. Dan barangkali apa yang tertulis di kitab al-Majmu’ itu hanyalah salah tulis (slip of the pen) dari yang seharusnya kata 'setelah' (ba'da) tertulis menjadi 'sebelum' (qabla)" — Selesai perkataan al-Adzra'i.

Kritik (al-Adzra'i) ini tidak pada tempatnya (tidak tepat). Karena perkara 'salah tulis' tidak bisa diputuskan begitu saja hanya dengan prasangka (dugaan). Puncak dari masalah ini sebenarnya adalah adanya perbedaan pendapat (khilaf):
1. Imam Nawawi berjalan di atas salah satu sudut pandang dalam kitab ar-Raudhah.
2. Beliau berjalan di atas pandangan yang lain (bahwa tetap sunnah) dalam kitab al-Majmu’ di bab ini.

Akan tetapi, di akhir bab (kitab al-Majmu’), Imam Nawawi berjalan di atas pendapat sebaliknya (menguatkan yang tetap sunnah), beliau menyatakan: "Jika bayi mati sebelum hari ketujuh, maka dianjurkan (sunnah) untuk diaqiqahi menurut mazhab kita (Syafi'i), berbeda dengan pendapat Al-Hasan Al-Bashri dan Imam Malik".

Maka perkataan Imam Nawawi "menurut mazhab kita" sebagai perbandingan terhadap kedua imam tersebut (Al-Hasan dan Malik), menjadi teks yang jelas (sharih) bahwa inilah pendapat resmi undang-undang mazhab (Al-Madzhab). — Selesai kutipan dari Syekh Ibnu Qasiim al-Ubadiy.

Redaksi dalam kitab Mughni al-Muhtaj, Asnal Mathalib, dan Nihayat al-Muhtaj disebutkan:
"Dan disunnahkan untuk mengaqiqahi anak yang mati sebelum hari ketujuh dan setelah adanya kemampuan (waktu) untuk menyembelih". — Selesai”.
[Hawasyi As Syarwani Ala Tuhfah IX/370]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama