2158. HUKUM IHRAM HAJI DI JEDDAH

(Foto: YouTube)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum
Hukum ihram di jeddah gimana ya
[𝗦𝗶𝗶𝗺]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Permasalahan ihram haji di Jeddah memang sedari dulu sudah menjadi polemik dikalangan para Ulama, tidak hanya terjadi atau Diceritakan pada zaman sekarang ini.

Dikalangan Madzhab Syafi'i sendiri permasalahan ihram haji di Jeddah memang terjadi khilaf, sehingga dalam hal ini ada dua pendapat:
1. Pendapat yang tidak memperbolehkan, inilah pendapat: Syeikh Abdullah bin Umar Bamakhramah, Muhammad bin Abi Bakar Al-Asykhar dan Syekh Abdul Rauf, dll.
2. Pendapat yang Memperbolehkan, inilah pendapat: Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami, An-Nasyili (Mufti Makkah), Al-Faqih Ahmad Balhaj, Ibnu Ziyad Al-Yamani, dll.

Sebagian Ulama mengkritik pendapat yang membolehkan ihram haji di Jeddah seperti pendapat Syeikh Ibnu Hajar Al Haitami karena beliau menganggap jarak Jeddah ke Mekkah adalah dua Marhalah - sebagaimana jarak memperbolehkan mengerjakan shalat musafir -, sehingga bila jaraknya kurang dari dua Marhalah maka tidak boleh ihram haji di Jeddah, bahkan sebagian Ulama Syafi'iyah menyatakan: "Sesungguhnya orang dari penduduk Yaman yang berihram dari Jeddah, maka ia wajib membayar dam (denda). Dan setiap ulama yang menyetujui pendapat Syaikh Ibnu Hajar—seperti Ibnu Muthair, Ibnu Ziyad, dan ulama Yaman lainnya—ucapan mereka itu dasarnya adalah asumsi kesamaan jarak. Ketika perbedaan jaraknya sekarang telah terbukti nyata sebagaimana yang engkau ketahui, maka mereka pun sebenarnya (secara tidak langsung) berpendapat tidak boleh, diambil dari teks persyaratan mereka terkait batasan jarak tersebut". Demikianlah dikutip Syeikh Bakri Syatha Dimyathi dari Syeikh As-Sayyid Al-'Allamah Yusuf bin Husain Al-Bithah Al-Ahdal.

Syeikh Umar As Syathiriy salah seorang Ulama Syafi'iyah kontemporer termasuk yang berpendapat boleh Ihram haji di Jeddah sebagai upaya keringanan. Apabila berpihak kepada pendapat yang tidak memperbolehkan ihram haji di Jeddah lalu dilakukan maka konsekuensinya wajib membayar dam sebagaimana disinyalir lewat keterangan diatas. Tapi, bila kita beramal memakai pendapat yang membolehkan seperti ditetapkan oleh Syeikh Umar As Syathiriy maka tidak ada kewajiban apapun dan sahlah Ihram tersebut. Demikianlah hukum fiqih Madzhab Syafi'i terkait ihram haji di Jeddah. Disamping itu, Jeddah bukanlah tempat miqat. Namun, para Ulama menyebutkan bahwa tempat miqat harus lah berjarak dengan Mekkah 2 Marhalah, sehingga jika ada tempat sudah berjarak demikian walaupun bukan Jeddah dianggap cukup ihram disitu.

𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡

Ihram haji di Jeddah terjadi perselisihan pendapat dikalangan Madzhab Syafi'i dan sudah sepantasnya bagi jama'ah haji yang beramal dengan Madzhab Syafi'i mengamalkan hukum di Madzhab Syafi'i, sebagian pendapat membolehkan dan sebagian tidak memperbolehkan dan bahkan menurut sebagian Ulama bila secara nyata jarak antara Jeddah ke Mekkah kurang dari dua Marhalah sama halnya ia tidak ihram di miqat dan diharuskan membayar dam. Tapi kalau mengamalkan pendapat yang membolehkan secara mutlak tidak ada kewajiban apapun. Jadi, secara amalan lebih utama mengamalkan pendapat yang tidak memperbolehkan dan lebih utama lagi Ihram memang pada miqat yang sudah ditentukan melalui keterangan para Ulama. Namun, sekiranya tidak memungkinkan seperti mendarat melalui pesawat dan sampai di miqat tidak bisa ihram seperti belum memakai pakaian ihram maka tidak mengapa bertaqlid kepada pendapat yang membolehkan karena kesulitan melakukan pada tempatnya.

𝗦𝗔𝗥𝗔𝗡

Bila ada pemberitahuan lewat petugas pesawat tempat miqat hampir tiba hendaknya mempersiapkan diri untuk ihram dan jangan ihram haji di Jeddah, pilihan ini adalah yang utama karena menghindari khilaf Ulama dalam kasus ini dan keluar dari khilaf adalah Disunahkan. Bahkan, pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafi'i memang tidak membolehkan Ihram haji di Jeddah berdasarkan penuturan para Ulama Syafi'iyah.

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

وَلَا يَجُوزُ لَهُ تَأْخِيرُ إِحْرَامِهِ إِلَى الْوُصُولِ إِلَى جُدَّةَ، خِلَافًا لِمَا أَفْتَى بِهِ شَيْخُنَا مِن جَوَازِ تَأْخِيرِهِ إِلَيْهَا، وَعَلَّلَ بِأَنَّ مَسَافَتَهَا إِلَى مَكَّةَ كَمَسَافَةِ يَلَمْلَمَ إِلَيْهَا.
(قَوْلُهُ: وَلَا يَجُوزُ لَهُ) أَيْ لِلْجَائِيْ فِي الْبَحْرِ مِنْ جِهَةِ الْيَمَنِ. (قَوْلُهُ: خِلَافًا لِمَا أَفْتَى بِهِ شَيْخُنَا) هُوَ مُصَرَّحٌ بِهِ فِي "التُّحْفَةِ"، وَنَصُّهَا: وَبِهِ يُعْلَمُ أَنَّ الْجَائِيَ مِنَ الْيَمَنِ فِي الْبَحْرِ لَهُ أَنْ يُؤَخِّرَ إِحْرَامَهُ مِنْ مُحَاذَاةِ يَلَمْلَمَ إِلَى جُدَّةَ، لِأَنَّ مَسَافَتَهَا إِلَى مَكَّةَ كَمَسَافَةِ يَلَمْلَمَ كَمَا صَرَّحُوا بِهِ. قَالَ الْكُرْدِيُّ بَعْدَ أَنْ سَاقَ الْعِبَارَةَ الْمَذْكُورَةَ: وَمِمَّنْ قَالَ بِالْجَوَازِ: النَّشِيْلِيُّ مُفْتِي مَكَّةَ، وَالْفَقِيهُ أَحْمَد بَلْحَاج، وَابْنُ زِيَادٍ الْيَمَنِيُّ وَغَيْرُهُمْ. وَمِمَّنْ قَالَ بِعَدَمِ الْجَوَازِ: عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بَامَخْرَمَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْأَشْخَرُ، وَتِلْمِيذُ الشَّارِحِ عَبْدُ الرَّؤُوفِ. قَالَ: لِأَنَّ جُدَّةَ أَقَلُّ مَسَافَةً بِنَحْوِ الرُّبُعِ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ، وَإِنْ وُجِدَ تَصْرِيحٌ لَهُمْ بِأَنَّ كُلًّا مِنْ يَلَمْلَمَ وَجُدَّةَ مَرْحَلَتَانِ، فَمُرَادُهُمْ أَنَّ كُلًّا لَا يَنْقُصُ عَنْ مَرْحَلَتَيْنِ، وَلَا يَلْزَمُ مِنْهُ اسْتِوَاءُ مَسَافَتِهِمَا، لَا سِيَّمَا وَقَدْ حَقَّقَ التَّفَاوُتَ الْكَثِيرُ مِمَّنْ سَلَكَ الطَّرِيقَيْنِ، وَهُمْ عَدَدٌ كَادُوا أَنْ يَتَوَاتَرُوا قَالَ ابْنُ عَلَّانَ فِي شَرْحِ الْإِيضَاحِ: وَلَيْسَ هَذَا مِمَّا يَرْجِعُ لِنَظَرٍ فِي الْمَدْرَكِ حَتَّى يُعْمَلَ فِيهِ بِالتَّرْجِيحِ، بَلْ هُوَ أَمْرٌ مَحْسُوسٌ يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ لِمَعْرِفَتِهِ بِذَرْعِ حَبْلٍ طَوِيلٍ يُوصِلُ لِذَلِكَ. اهـ. وَفِي الْبِطَاحِ مَا نَصُّهُ: قَالَ ابْنُ الْجَمَالِ: وَمَا فِي "التُّحْفَةِ" مَبْنِيٌّ عَلَى اتِّحَادِ الْمَسَافَةِ الظَّاهِرِ مِنْ كَلَامِهِمْ، فَإِذَا تَحَقَّقَ التَّفَاوُتُ فَهُوَ قَائِلٌ بِعَدَمِ الْجَوَازِ قَطْعًا، بِدَلِيلِ صَدْرِ كَلَامِهِ النَّصِّ فِي ذَلِكَ، وَأَيْضًا كُلُّ مَحَلٍّ مِنَ الْبَحْرِ بَعْدَ رَأْسِ الْعَلَمِ أَقْرَبُ إِلَى مَكَّةَ مِنْ يَلَمْلَمَ، وَقَدْ قَالَ بِذَلِكَ فِي "التُّحْفَةِ" وَقَالَ شَيْخُنَا السَّيِّدُ الْعَلَّامَةُ يُوسُفُ بْنُ حُسَيْنٍ الْبِطَاحُ الْأَهْدَلُ نَقْلًا عَن شَيْخِنَا السَّيِّدِ الْعَلَّامَةِ سُلَيْمَانَ بْنِ يَحْيَى بْنِ عُمَرَ مَقْبُولٍ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى مَا حَاصِلُهُ: إِنَّ مَنْ أَحْرَمَ مِنْ جُدَّةَ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ يَلْزَمُهُ دَمٌ، وَكُلُّ مَنْ وَافَقَ الشَّيْخَ ابْنَ حَجَرٍ - مِثْلَ ابْنِ مُطَيْرٍ، وَابْنِ زِيَادٍ، وَغَيْرِهِمْ مِنَ الْيَمَنِيِّينَ - فَكَلَامُهُمْ مَبْنِيٌّ عَلَى اتِّحَادِ الْمَسَافَةِ بَيْنَ ذَلِكَ، وَقَدْ تَحَقَّقَ التَّفَاوُتُ كَمَا عَلِمْتَ فَهُمْ قَائِلُونَ بِعَدَمِ جَوَازِ ذَلِكَ، أَخْذًا مِنْ نَصِّ تَقْيِيدِهِمُ الْمَسَافَةَ. اهـ. (قَوْلُهُ: مِنْ جَوَازِ إِلخ) بَيَانٌ لِمَا. وَقَوْلُهُ: تَأْخِيرِهِ أَيِ الْإِحْرَامِ. وَقَوْلُهُ: إِلَيْهَا أَيْ إِلَى جُدَّةَ. (قَوْلُهُ: وَعَلَّلَ) أَيْ شَيْخُهُ، الْجَوَازَ، فَالْمَفْعُولُ مَحْذُوفٌ. (قَوْلُهُ: بِأَنَّ مَسَافَتَهَا) أَيْ جُدَّةَ. (وَقَوْلُهُ: إِلَى مَكَّةَ) أَيِ الْمُنْتَهِيَةِ إِلَى مَكَّةَ، فَالْجَارُّ وَالْمَجْرُورُ مُتَعَلِّقٌ بِمَحْذُوفٍ صِفَةٍ لِمَسَافَتِهَا. وَقَوْلُهُ: كَمَسَافَةِ يَلَمْلَمَ خَبَرُ أَنَّ. وَقَوْلُهُ: إِلَيْهَا أَيْ إِلَى مَكَّةَ.
“Tidak boleh baginya menunda ihram hingga sampai di Jeddah. Hal ini berbeda dengan fatwa guru kami (Ibnu Hajar Al-Haitami) yang membolehkan menundanya sampai ke Jeddah, dengan alasan bahwa jarak Jeddah ke Mekkah itu sama dengan jarak Yalamlam ke Mekkah.

(Perkataan Pengarang "Tidak boleh baginya") Maksudnya, bagi orang yang datang lewat jalur laut dari arah Yaman.

(Perkataan Pengarang "Berbeda dengan fatwa guru kami") Hal ini ditegaskan secara gamblang dalam kitab Tuhfah, yang teksnya berbunyi: "Dengan demikian diketahui bahwa orang yang datang dari Yaman lewat laut, boleh baginya menunda ihram dari titik sejajar Yalamlam hingga sampai ke Jeddah, karena jarak Jeddah ke Mekkah sama dengan jarak Yalamlam ke Mekkah sebagaimana ditegaskan para Ulama". Syeikh Al-Kurdi mengatakan setelah memaparkan redaksi tersebut: "Di antara Ulama yang berpendapat boleh (ihram di Jeddah) adalah: An-Nasyili (Mufti Mekkah), Al-Faqih Ahmad Balhaj, Ibnu Ziyad Al-Yamani, dan selain mereka. Sedangkan di antara Ulama yang berpendapat tidak boleh adalah: Abdullah bin Umar Bamakhramah, Muhammad bin Abi Bakar Al-Asykhar, serta murid Pensyarh yaitu Syaikh Abdul Rauf. Syeikh Al-Kurdi melanjutkan: "Alasan ketidakbolehan ini karena jarak Jeddah itu lebih dekat sekitar seperempatnya (daripada Yalamlam ke Mekkah) sebagaimana yang disaksikan secara nyata. Walaupun ditemukan penegasan Ulama terdahulu bahwa Yalamlam dan Jeddah sama-sama berjarak dua marhalah, maksud mereka adalah masing-masing tidak kurang dari dua marhalah, bukan berarti jarak keduanya persis sama. Terlebih lagi, perbedaan jarak ini telah dibuktikan secara nyata oleh banyak orang yang telah menempuh kedua jalur tersebut, dan jumlah mereka mendekati batas mutawatir (sangat banyak). Ibnu 'Allan mengatakan dalam Syarah Al-Idhah: "Masalah (jarak) ini bukanlah termasuk perkara yang membutuhkan analisis dalil (ijtihad) sehingga harus diselesaikan dengan metode tarjih (memilih pendapat yang kuat), melainkan ini adalah perkara indrawi/fisik yang bisa diketahui kebenarannya secara pasti dengan cara mengukurnya menggunakan tali yang panjang". Selesai.

Dalam kitab al-Bithah disebutkan redaksi berikut: "Ibnu Al-Jamal berkata: Apa yang tertulis dalam kitab Tuhfah itu dasarnya adalah asumsi kesamaan jarak yang tampak secara sekilas dari ucapan Ulama terdahulu. Maka apabila perbedaan jarak tersebut terbukti secara nyata, maka Ibnu Hajar sendiri pasti akan berpendapat tidak boleh (ihram di Jeddah), dengan bukti teks di awal perkataannya sendiri yang menegaskan hal itu. Selain itu, setiap titik di laut setelah melewati tanjung Ra'sul 'Alam posisinya lebih dekat ke Mekkah daripada Yalamlam. Dan Ibnu Hajar sendiri telah menyatakan hal demikian di dalam Tuhfah".

Guru kami, As-Sayyid Al-'Allamah Yusuf bin Husain Al-Bithah Al-Ahdal berkata—menukil dari guru kami As-Sayyid Al-'Allamah Sulaiman bin Yahya bin Umar Maqbul Rahimahumullah ta'ala—yang kesimpulannya: "Sesungguhnya orang dari penduduk Yaman yang berihram dari Jeddah, maka ia wajib membayar dam (denda). Dan setiap Ulama yang menyetujui pendapat Syaikh Ibnu Hajar—seperti Ibnu Muthair, Ibnu Ziyad, dan ulama Yaman lainnya—ucapan mereka itu dasarnya adalah asumsi kesamaan jarak. Ketika perbedaan jaraknya sekarang telah terbukti nyata sebagaimana yang engkau ketahui, maka mereka pun sebenarnya (secara tidak langsung) berpendapat tidak boleh, diambil dari teks persyaratan mereka terkait batasan jarak tersebut". Selesai.

(Perkataan Pengarang "Berupa kebolehan dst.") Merupakan penjelasan bagi kata 'lima' (apa yang difatwakan).

Dan perkataan beliau "Menundanya" Yaitu menunda ihram.

Dan perkataan beliau "Kepadanya" Yaitu ke Jeddah.

(Perkataan Pengarang "Dan beliau beralasan") Yaitu guru beliau beralasan tentang kebolehan tersebut, sehingga objeknya (maf'ul) dibuang.

(Perkataan Pengarang "Bahwa jaraknya" Yaitu jarak Jeddah.

(Dan perkataannya: "Ke Mekkah") Yaitu yang berakhir di Mekkah. Hubungan jar-majrur ini berkaitan dengan sifat yang dibuang bagi kata 'jaraknya'.

Dan perkataan beliau "Seperti jarak Yalamlam" Menjadi khabar dari kata 'anna'.

Dan perkataan beliau "Kepadanya" Yaitu ke Mekkah”.
[Hasyiyah I'aanah At Thaalibiin II/303-304]

وَبِهِ يُعْلَمُ أَنَّهُ لَيْسَ لِلْجَائِيْنَ مِنَ الْيَمَنِ تَأْخِيْرُ إِحْرَامِهِمْ إِلَى جُدَّةَ، وَإِنْ قَالَ فِي "التُّحْفَةِ" وَتَبِعَهُ جَمَاعَةٌ: إِنَّ مَسَافَتَهَا كَمَسَافَةِ يَلَمْلَمَ إِلَى مَكَّةَ؛ لِتَحَقُّقِ التَّفَاوُتِ بِنَحْوِ الرُّبُعِ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ، فَلَا مَعْنَى لِلْخِلَافِ. نَعَمْ؛ أَفْتَى بِمَا فِي "التُّحْفَةِ" الشَّيْخُ مُحَمَّد صَالِح الرَّئِيْسُ؛ تَبَعًا لِلشَّيْخِ إِدْرِيْسَ الصَّعِيْدِيِّ، وَعَلَّلَهُ بِأَنَّ مَبْنَى الْمَوَاقِيْتِ عَلَى التَّقْرِيْبِ؛ لِتَصْرِيْحِهِمْ أَنَّ يَلَمْلَمَ وَذَاتَ عِرْقٍ وَجُدَّةَ عَلَى مَرْحَلَتَيْنِ، مَعَ أَنَّ بَعْضَهَا يَزِيْدُ عَلَى ذَلِكَ.
“Dan dengan alasan tersebut diketahui bahwa bagi orang-orang yang datang dari arah Yaman, tidak boleh menunda ihram mereka hingga sampai di Jeddah, meskipun pengarang kitab Tuhfah (Ibnu Hajar Al-Haitami) dan sekelompok Ulama yang mengikutinya berpendapat: 'Sesungguhnya jarak Jeddah (ke Mekkah) itu sama seperti jarak Yalamlam ke Mekkah'. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan jarak yang nyata sekitar seperempatnya (antara Jeddah dan Yalamlam) sebagaimana yang disaksikan (secara geografis), sehingga perbedaan pendapat tersebut tidak ada artinya (tidak kuat). Benar (memang ada yang berpendapat demikian); Syaikh Muhammad Shalih ar-Rais telah berfatwa menggunakan pendapat yang ada di dalam Tuhfah karena mengikuti Syeikh Idris as-Sha'idi. Beliau memberikan alasan bahwa ketetapan batas miqat itu dasarnya adalah perkiraan (taqrib), berdasarkan penegasan para Ulama bahwa Yalamlam, Dzatu 'Irq, dan Jeddah itu jaraknya (ke Mekkah) adalah sejauh dua marhalah (sekitar 80–90 km), padahal kenyataannya sebagian dari tempat tersebut jaraknya lebih dari itu”.
[Busyral Kariim II/93]

وَمَنْ لَمْ يُحَاذِ مِيْقَاتًا أَصْلًا، كَالْجَائِيْ مِنَ الْبَحْرِ مِنْ جِهَةِ سَوَاكِنَ، فَمِيْقَاتُهُ عَلَى مَرْحَلَتَيْنِ مِنْ مَكَّةَ؛ إِذْ لَا مِيْقَاتَ أَقَلُّ مَسَافَةً مِنْ هَذَا الْقَدْرِ. وَتَحْصُلُ مَعْرِفَةُ ذَلِكَ بِأَنْ كَانَ عِنْدَهُ مَنْ يَعْرِفُ تِلْكَ الْمسَافَةَ أَوْ بِأَنْ يَجْتَهِدَ فِيْهَا. وَيُفْهَمُ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ جُدَّةَ إِنْ كَانَتْ مَسَافَتُهَا إِلَى مَكَّةَ لَا تَنْقُصُ عَنْ مَرْحَلَتَيْنِ، يَكْفِيْ أَنْ تَكُوْنَ مِيْقَاتًا لِلْجَائِيْ مِنَ الْبَحْرِ مِنْ جِهَةِ الْيَمَنِ، وَإِلَّا (أي: وَإِنْ نَقَصَتْ) فَلَا بُدَّ أَنْ يُحْرِمَ قَبْلَ وُصُوْلِ جُدَّةَ بِحَيْثُ تَبْلُغُ الْمسَافَةُ إِلَى مَكَّةَ مَرْحَلَتَيْنِ. وَذَلِكَ أَنَّ جِهَةَ جُدَّةَ مِنْ مَكَّةَ غَرْبِيٌّ، وَجِهَةَ يَلَمْلَمَ مِنْهَا جَنُوْبِيٌّ شَرْقِيٌّ، فَصَارَتْ أَمَامَ الْجَائِيْ، بِخِلَافِهِ الْمَارِّ عَلَى ذِي الْحُلَيْفَةِ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَخِّرَ إِحْرَامَهُ إِلَى الْجُحْفَةِ لِأَنَّ جِهَتَهُمَا مِنْ مَكَّةَ مُتَّحِدَةٌ.
“Barang siapa yang sama sekali tidak melewati (jalur yang sejajar/searah dengan) salah satu miqat, seperti orang yang datang melalui jalur laut dari arah Suakin (Sudan), maka miqatnya adalah dalam jarak dua marhalah (sekitar 80–90 km) dari Mekkah; hal ini karena tidak ada miqat yang jaraknya lebih pendek dari ukuran tersebut. Pengetahuan tentang jarak tersebut dapat diperoleh dengan adanya orang di dekatnya yang mengetahui jarak tersebut, atau dengan cara dia berijtihad (memperkirakan sendiri). 

Dari ketentuan tersebut dapat dipahami, bahwa jika jarak dari Jeddah ke Mekkah tidak kurang dari dua marhalah, maka hal itu cukup bagi Jeddah untuk menjadi miqat bagi orang yang datang lewat laut dari arah Yaman. Namun jika jaraknya kurang dari dua marhalah, maka ia wajib berihram sebelum sampai di Jeddah, sekiranya sisa jarak posisinya menuju Mekkah masih mencapai dua marhalah. Hal itu karena arah Jeddah dari Mekkah berada di sebelah barat, sedangkan arah Yalamlam dari Mekkah berada di sebelah tenggara (selatan agak timur), sehingga posisi Jeddah berada di hadapan orang yang datang (dari arah tersebut tanpa memotong jalur Yalamlam). Berbeda halnya dengan orang yang melewati jalur Dzul Hulaifah (Madinah), maka ia tidak boleh menunda ihramnya hingga sampai ke Al-Juhfah, karena arah kedua miqat tersebut dari Mekkah adalah satu jalur (searah/berada di sisi yang sama)”.
[Nihaayah Az Zain Halaman 215]

هَلْ جُدَّةُ مِيْقَاتٌ لِلْإِحْرَامِ؟
وَعَنْ مِيْقَاتِ أَهْلِ الْيَمَنِ وَهُوَ يَلَمْلَمُ. كَانَ الْقَادِمُوْنَ مِنَ الْيَمَنِ عَنْ طَرِيْقِ الْبَحْرِ يُحْرِمُوْنَ وَهُمْ بِالْبَاخِرَةِ مِنْ عَرْضِ الْبَحْرِ. وَمَنْ كَانُوْا بِالطَّائِرَةِ يُحْرِمُوْنَ إِذَا أُعْلِمُوْا بِمُسَامَتَتِهِ. وَلَكِنْ فِي الْوَقْتِ الْحَاضِرِ كَثِيْرٌ مِنَ الْقَادِمِيْنَ يَقْصِدُوْنَ جُدَّةَ أَوَّلًا ثُمَّ يُحْرِمُوْنَ مِنْهَا. وَلِلْعُلَمَاءِ بَحْثٌ وَكَلَامٌ فِي الْمَوْضُوْعِ. وَالْإِحْرَامُ مِنْ جُدَّةَ فِيْهِ خِلَافٌ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ، أَمَّا ابْنُ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيُّ الْمَكِّيُّ - وَكَانَ نَشَأَ بِمِصْرَ وَأَكْثَرُ مَا تَلَقَّى تَعْلِيْمَهُ فِي الْأَزْهَرِ؛ ثُمَّ رَحَلَ إِلَى مَكَّةَ وَأَقَامَ بِهَا - كَانَ يَقُوْلُ: مِيْقَاتُ أَهْلِ الْيَمَنِ جُدَّةُ، لَكِنَّهُ يَعْنِيْ بِهَا جُدَّةَ الْقَدِيْمَةَ. وَانْتَقَدَهُ عُلَمَاءُ، وَمِنْ جُمْلَتِهِمْ عُلَمَاءُ حَضْرَمَوْتَ. قَالُوْا: إِنَّهَا لَيْسَتْ مِيْقَاتًا، لِأَنَّهَا أَقَلُّ مِنْ مَرْحَلَتَيْنِ. لَكِنْ بَعْضُ الَّذِيْنَ يُوَافِقُوْنَ ابْنَ حَجَرٍ، أَتَى بِمُبَرِّرٍ آخَرَ وَقَالَ: إِنَّ يَلَمْلَمَ جَبَلٌ طَوِيْلٌ جِدًّا، يَبْدَأُ فِي عَرْضِ الْبَحْرِ وَيَنْتَهِيْ آخِرُهُ إِلَى قُرْبِ مَكَّةَ. وَهَلْ عَلَى الْحَاجِّ أَنْ يُحْرِمَ مِنْ أَوَّلِ الْمِيْقَاتِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ؟ قَالُوْا: الْأَفْضَلُ أَنْ يُحْرِمَ مِنْ أَوَّلِ الْمِيْقَاتِ، وَيَجُوْزُ لَهُ الْإِحْرَامُ مِنْ آخِرِهِ. وَالْمُهِمُّ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَكَّةَ مَرْحَلَتَيْنِ (٨٥ كِيْلُوْمِتْرًا). خَمْسَةٌ وَثَمَانِيْنَ كِيْلُوْمِتْرًا أَوْ سِتَّةٌ وَثَمَانِيْنَ كِيْلُوْمِتْرًا عَلَى حِسَابِ أَنَّ الْمِيْلَ أَرْبَعَةُ آلَافِ ذِرَاعٍ أَخْذًا بِالْأَحْوَطِ(١). نَعُوْدُ إِلَى الْقَادِمِيْنَ إِلَى جُدَّةَ بِدُوْنِ إِحْرَامٍ. قُلْنَا: كُلُّ قَادِمٍ بِقَصْدِ الْحَجِّ أَوِ الْعُمْرَةِ، لَا يَجُوْزُ لَهُ تَجَاوُزُ مِيْقَاتِهِ بِدُوْنِ إِحْرَامٍ. وَقُلْنَا إِنَّ كَثِيْرًا مِنَ الْعُلَمَاءِ يَقُوْلُوْنَ: إِنَّ جُدَّةَ لَيْسَتْ بِمِيْقَاتٍ. لَكِنْ بَعْضُ الْأَحْنَافِ أَتَوْا بِحِيْلَةٍ وَقَالُوْا: عَلَى الْقَادِمِ إِلَى جُدَّةَ أَنْ يَقْصِدَ بِقُدُوْمِهِ زِيَارَةَ أَحَدٍ مِنْ أَقْرِبَائِهِ الْمُقِيْمِيْنَ بِهَا وَمَا أَشْبَهَهَا. وَهَذَا يَكْفِيْ فِي سُقُوْطِ وُجُوْبِ الْإِحْرَامِ عَلَيْهِ مِنَ الْمِيْقَاتِ. لَكِنْ قَالَ بَعْضُهُمْ، هُوَ فِي الْبَاطِنِ جَاءَ بِقَصْدِ الْحَجِّ وَلَيْسَ دِيْنُ اللهِ بِالْحِيَلِ.

كَثِيْرٌ مِنَ الْقَادِمِيْنَ يُحْرِمُوْنَ مِنْ جُدَّةَ
كَثِيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ جَمِيْعِ الْجِهَاتِ يُحْرِمُوْنَ مِنْ جُدَّةَ، وَيُعْلَمُ مِمَّا تَقَدَّمَ وَغَيْرِهِ أَنَّهُمْ لَا يَخْلُوْنَ عَنْ بَعْضِ الْأَقْوَالِ الَّتِيْ تُجِيْزُ لَهُمُ ذَلِكَ شَرِيْطَةَ أَنْ يَكُوْنَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَكَّةَ مَرْحَلَتَانِ، وَشَدَّدَ بَعْضُهُمْ وَفَصَّلَ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقَ التَّخْفِيْفِ فِي الْإِحْرَامِ مِنْ جُدَّةَ كَمَا يَأْتِيْ فَهِيَ الْأَنْسَبُ لِسَمَاحَةِ الْإِسْلَامِ "يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ"، "وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ". وَالظُّرُوْفُ فِي الْوَقْتِ الْحَاضِرِ تَجْعَلُنَا نَقُوْلُ مَنْ جَاءَ لِلْعِبَادَةِ وَأَقْبَلَ عَلَى الْخَيْرِ مَقْبُوْلٌ، عُرْجًا كَانُوْا أَوْ مَكَاسِيْرَ. وَرَسُوْلُ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: "إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ أَمْرٍ فَاجْتَنِبُوْهُ كُلَّهُ". فَالشَّاهِدُ أَنَّ الرَّسُوْلَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَآلِهِ يَسَّرَ، حَتَّى إِنَّهُ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ سَأَلَهُ أَحَدُ الصَّحَابَةِ قَائِلًا: حَلَقْتُ قَبْلَ أَنْ أَذْبَحَ. قَالَ لَهُ: "اِذْبَحْ وَلَا حَرَجَ". وَقَالَ آخَرُ: ذَبَحْتُ قَبْلَ أَنْ أَرْمِيَ. قَالَ لَهُ: "اِرْمِ وَلَا حَرَجَ" وَهَذَا مِنْ بَابِ التَّيْسِيْرِ. حَتَّى إِنَّ الْإِمَامَ عَلِيًّا أَحْرَمَ بِمَا أَحْرَمَ بِهِ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ وَهُوَ لَا يَدْرِيْ. وَلِهَذَا تَجِدُ الْفُقَهَاءَ يَقُوْلُوْنَ فِي تَقْرِيْرَاتِهِمْ "وَلَوْ أَحْرَمَ كَإِحْرَامِ زَيْدٍ جَازَ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِهِ"، أَخَذُوْا دَلِيْلَهُمْ مِنْ إِحْرَامِ الْإِمَامِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ بَعْضَ أَصْحَابِهِ أَنْ يُحَوِّلُوْا إِحْرَامَهُمْ مِنَ الْحَجِّ إِلَى عُمْرَةٍ وَقَالَ: "لَوْلَا أَنِّيْ سُقْتُ الْهَدْيَ لَجَعَلْتُهَا عُمْرَةً".
__________________
(١) ذَكَرَ شَيْخُنَا أَنَّ فِي مَوْضُوْعِ الْإِحْرَامِ مِنْ جُدَّةَ رِسَالَةً مُسَمَّاةً دَفْعُ الْحَرَجِ وَالشِّدَّةِ فِي جَوَازِ الْإِحْرَامِ مِنْ جُدَّةَ وَهِيَ مَطْبُوْعَةٌ وَمَوْجُوْدَةٌ.
“Apakah Jeddah Merupakan Miqat untuk Berihram?

Mengenai miqat penduduk Yaman, yaitu Yalamlam. Dahulu orang-orang yang datang dari Yaman melalui jalur laut melakukan ihram ketika mereka berada di atas kapal di tengah laut. Sedangkan mereka yang menggunakan pesawat terbang, mereka berihram ketika diberi tahu bahwa posisi mereka telah sejajar (dengan miqat). Namun pada masa sekarang, banyak dari orang yang datang (jamaah) menuju ke Jeddah terlebih dahulu, kemudian mereka baru berihram dari sana. Para ulama memiliki kajian dan pembahasan mendalam masalah ini.

Berihram dari Jeddah di dalamnya terdapat perbedaan pendapat (khilaf) di antara para ulama. Adapun Ibnu Hajar al-Haitami al-Makki—beliau tumbuh besar di Mesir dan sebagian besar menempuh pendidikannya di Al-Azhar, kemudian hijrah ke Makkah dan menetap di sana—beliau dahulu berpendapat: Miqat penduduk Yaman adalah Jeddah, namun yang beliau maksud di sini adalah Jeddah Lama. Pendapat beliau ini dikritik oleh para ulama, yang di antaranya adalah para ulama Hadhramaut (Yaman). Mereka menyatakan: Sesungguhnya Jeddah bukanlah miqat, karena jaraknya (ke Makkah) kurang dari dua marhalah. * Akan tetapi, sebagian ulama yang setuju dengan Ibnu Hajar mengajukan alasan lain, mereka berkata: "Sesungguhnya Yalamlam adalah gunung/bukit yang sangat panjang, ia bermula dari tengah laut dan bagian ujungnya berakhir di dekat Makkah. Lalu apakah seorang jemaah haji harus berihram dari awal batas miqat atau boleh dari ujung akhirnya?" Mereka menjawab: "Yang paling utama adalah berihram dari awal miqat, namun boleh juga berihram dari ujung akhirnya." Yang terpenting adalah dia menjadikan jarak antara dirinya dan Makkah sejauh dua marhalah (85 kilometer) atau 86 kilometer berdasarkan hitungan bahwa satu mil itu sama dengan 4.000 hasta, sebagai bentuk mengambil sikap yang lebih berhati-hati (ahwath).(1)

Kita kembali ke pembahasan orang-orang yang datang ke Jeddah tanpa berihram. Kami katakan: Setiap orang yang datang dengan tujuan haji atau umrah, tidak boleh baginya melewati batas miqatnya tanpa berihram. Dan telah kami sampaikan pula bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa Jeddah bukanlah miqat. Namun, sebagian ulama dari mazhab Hanafi memberikan sebuah solusi hukum (hiylah) dengan berkata: Hendaknya orang yang datang ke Jeddah itu meniatkan kedatangannya untuk berkunjung ke salah satu kerabatnya yang tinggal di sana, atau alasan yang serupa. Hal ini dianggap cukup untuk menggugurkan kewajiban berihram dari miqat asli. Meski demikian, sebagian ulama lain mengkritik: Secara batin dia tetap datang untuk tujuan haji, dan agama Allah tidak bisa diakali dengan rekayasa hukum (hiylah). Banyak umat Islam dari berbagai penjuru bumi yang berihram dari Jeddah. Berdasarkan penjelasan yang lalu dan penjelasan lainnya, diketahui bahwa tindakan mereka tidak lepas dari menyandarkan diri pada sebagian pendapat ulama yang memperbolehkan hal tersebut, dengan syarat jarak antara posisi mereka dan Makkah masih sejauh dua marhalah. Sebagian ulama bersikap ketat dan merincinya. Namun, bagi siapa saja yang mengambil jalur kemudahan (takhfif) dalam masalah berihram dari Jeddah sebagaimana yang akan dijelaskan nanti, maka hal itu adalah yang paling sesuai dengan kelapangan agama Islam: "Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" (QS. Al-Baqarah: 185), serta "Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama" (QS. Al-Hajj: 78).

Kondisi pada zaman sekarang menuntun kita untuk berpendapat bahwa barangsiapa yang datang untuk beribadah dan menghadap kepada kebaikan, maka ibadahnya diterima, baik mereka yang datang dalam kondisi pincang maupun dalam keadaan serba kekurangan (payah). Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika aku memerintahkan suatu perkara kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Dan jika aku melarang kalian dari suatu perkara, maka jauhilah ia sepenuhnya." Maka buktinya adalah bahwa Rasulullah—sholawat Allah tercurah atasnya dan keluarganya— memberikan kemudahan. Bahkan di dalam peristiwa Haji Wada', salah seorang sahabat bertanya kepada beliau: "Aku telah mencukur rambut sebelum menyembelih kurban." Beliau bersabda: "Sembelihlah dan tidak ada dosa (tidak apa-apa)." Sahabat yang lain berkata: "Aku telah menyembelih sebelum melempar jumrah." Beliau bersabda: "Lemparlah dan tidak ada dosa." Ini semua masuk dalam bab memberikan kemudahan (taisir). Bahkan Khalifah Imam Ali bin Abi Thalib pernah berihram dengan niat menyamai apa saja yang diniatkan oleh Rasulullah ﷺ, padahal saat itu beliau sendiri belum tahu apa jenis haji yang diambil oleh Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, Anda akan menemukan para ahli fikih berkata dalam ketetapan mereka: "Seandainya seseorang berihram dengan mengucapkan: 'Aku berihram seperti ihramnya si Zaid', maka hal itu sah hukumnya meskipun dia belum tahu apa isi ihram si Zaid tersebut." Para ulama mengambil dalil ini dari perbuatan Imam Ali alaihis salam. Rasulullah ﷺ juga pernah memerintahkan sebagian sahabatnya untuk mengubah niat ihram mereka dari ibadah haji (Haji Ifrad/Qiran) menjadi ibadah umrah (Haji Tamattu'), seraya beliau bersabda: "Seandainya aku tidak membawa hewan kurban hewan hadyu, niscaya aku akan menjadikannya sebagai umrah".
______________
(1) Catatan Kaki: Guru kami menyebutkan bahwa dalam tema berihram dari Jeddah ini, terdapat sebuah risalah khusus yang berjudul "Daf'ul Haraj was Syiddah fi Jawazil Ihram min Jaddah" (Menolak Kesulitan dan Kesukaran dalam Bolehnya Berihram dari Jeddah), kitab tersebut sudah dicetak dan tersedia”.
[Syarh Al Yaaquut An Nafiis I/490-491]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama