2172. KEWAJIBAN SHALAT SEUMUR HIDUP

(Foto: NU Online)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh, izin bertanya. Apakah ada ulama yang berpendapat bahwa kewajiban sembahyang itu bisa gugur dari seorang mukallaf dalam keadaan tertentu? Terima kasih
[𝗕𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗹𝗮𝗵]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Sejauh pengetahuan saya selama ini tidak menemukan pendapat Ulama yang mengugurkan kewajiban shalat bagi seseorang kecuali bila dia hilang kesadaran diri karena selagi akal masih normal shalat bisa saja dilakukan walaupun bagi orang sakit sekaligus karena siapa yang tidak mampu berdiri bisa dengan duduk atau berbaring atau terakhir dengan isyarat hati.

دَوَامُ فَرْضِيَّةِ الصَّلَاةِ طَوَالَ الْعُمْرِ
دَوَامُ فَرْضِيَّةِ الصَّلَاةِ طَوَالَ الْعُمْرِ: لَا تَسْقُطُ الصَّلَاةُ بِحَالٍ حَضَرًا أَوْ سَفَرًا أَوْ مَرَضًا، فَيَلْزَمُ الْمُسْلِمُ بِالصَّلَاةِ مَا دَامَ حَيًّا، وَلَمْ يُصْبِحْ فِي حَالِ غَيْبُوبَةٍ أَوْ فَقْدِ الْوَعْيِ، وَإِنَّمَا يَسَّرَ الْإِسْلَامُ كَيْفِيَّةَ أَدَاءِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي صَلَاةِ الْخَوْفِ، وَصَلَاةِ الْمَرِيضِ بِحَسَبِ الْقُدْرَةِ مِنْ قِيَامٍ أَوْ قُعُودٍ أَوْ عَلَى جَنْبٍ أَوْ اسْتِلْقَاءٍ أَوْ بِالرَّأْسِ أَوْ بِالْأَعْيُنِ أَوْ إِجْرَاءِ الْأَرْكَانِ عَلَى الْقَلْبِ. وَمَنْ كَانَ مُلَطَّخًا بِالدَّمِ إِثْرَ عَمَلِيَّةٍ جِرَاحِيَّةٍ، أَوْ مَرْبُوطًا بِكِيسٍ يَصُبُّ فِيهِ الدَّمُ مَثَلًا، أَوْ مُجَبَّرَ الْكُسُورِ، يُصَلِّي عَلَى هَذِهِ الْحَالِ بِوُضُوءٍ أَوْ تَيَمُّمٍ بِحَسَبِ الْقُدْرَةِ، ثُمَّ يُعِيدُ الصَّلَاةَ بَعْدَ الشِّفَاءِ احْتِيَاطًا.
𝗞𝗘𝗟𝗔𝗡𝗚𝗦𝗨𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗞𝗘𝗪𝗔𝗝𝗜𝗕𝗔𝗡 𝗦𝗛𝗔𝗟𝗔𝗧 𝗦𝗘𝗣𝗔𝗡𝗝𝗔𝗡𝗚 𝗛𝗔𝗬𝗔𝗧

𝗞𝗲𝗹𝗮𝗻𝗴𝘀𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗦𝗵𝗮𝗹𝗮𝘁 𝗦𝗲𝗽𝗮𝗻𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗛𝗮𝘆𝗮𝘁: Shalat tidak gugur dalam keadaan bagaimanapun, baik saat berada di rumah (hadhar), dalam perjalanan (safar), maupun saat sakit. Maka seorang muslim wajib melaksanakan shalat selama ia masih hidup dan tidak dalam kondisi koma atau hilang kesadaran.

Sesungguhnya Islam hanyalah memberikan kemudahan (taysir) dalam tata cara pelaksanaan shalatnya, sebagaimana yang berlaku pada salat Khauf (shalat dalam kondisi genting/perang) dan shalat orang sakit yang disesuaikan dengan batas kemampuannya; mulai dari berdiri, duduk, berbaring miring, berbaring telentang, dengan isyarat kepala, dengan isyarat mata, hingga menjalan rukun-rukun shalat di dalam hati. Barang siapa yang (tubuhnya) berlumuran darah akibat tindakan operasi medis, atau terikat dengan kantong drainase yang menampung darah—misalnya—atau orang yang tulangnya sedang digips (majubar), maka ia tetap wajib shalat dalam kondisi tersebut dengan berwudhu atau bertayammum sebatas kemampuannya. Kemudian, ia mengulangi shalat tersebut (i'adah) setelah sembuh sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyathan)”.
[Al Fiqh Al Islami Wa Adillatuhu I/661-662]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama