2182. KHATHIB TIDAK TAHU MAKNA RUKUN KHUTBAH DAN KHATHIB TIDAK TAHU AQAID 50

(Foto: NU Online Banten)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum bertanya guru...
Dizaman skrg khususnya di kota2 bagi imam dan Khotib Jum'at biasa nya di kasih amplop sbg uang transport yg lumayan banyak mungkin sebab ini lah banyak orang2 awwam yg tdk pernah mondok tdk pernah ilmu syariat bahkan tdk pernah bljr ilmu aqidah apalagi bahasa Arab mereka berani naik mimbar ,, ini bukan suudzon tapi ada qorinah nya yaitu di masjid yg mana imam dan Khotib tdk dpt uang transportasi maka yg menjadi petugas hanya orang2 itulah berganti an, tapi di masjid yg ada amplop nya itu dlm 1 thn itu bisa mencapai 100 orang imam dan Khotib,... !
.,.
Pertanyaan :
1.Apakah Sah Khotib dan imam berasal dari orang awam dg kriteria diatas , sdg kan dlm kitab tauhid dikatakan orang mu'min yang taqlid tdk paham aqidah 50 iman nya saja masih di perselisihkan, bahkan solat dan whudu nya pun tdk sah mnrt sebagian ulama..
2. Rukun khutbah itu kan harus bahasa Arab,, apakah disyaratkan bagi Khotib memahami rukun2 bahasa Arab yg dibacakan tersebut, atau kah cukup wlwpun cuma sekedar baca tanpa di Khotib memahami makna rukun2 tersebut..
[𝗮𝗯𝘆𝗻𝘆𝗮 2𝗺𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

1. Bila kita merujuk keterangan Syeikh Al Bajuri maka ibadah orang yang tidak tahu sama sekali aqaid 50 (20 wajib, 20 mustahil bagi Allah, 1 Jaiz bagi Allah, 4 wajib, 4 mustahil bagi Rasul dan 1 Jaiz bagi Rasul) adalah tidak sah khutbah Jum'at, Imam, menyembelih hewan qurban dan lain sebagainya dari ibadah yang memerlukan niat. Namun, bila bertaqlid dalam masalah aqidah seperti kepada Imam Asy'ari maka ada pendapat yang mengatakan sah imannya karena Imam Asy'ari berpatokan pada Al Qur'an dan hadits dan itu adalah aqidah yang benar. Yang terakhir ini mungkin salah satu solusi bagi orang awam yang tidak terlalu mengindahkan mengetahui Aqaid 50 yang disebutkan tadi agar sah ibadahnya karena imannya dianggap sah dan tidak menutup kemungkinan masalah taqlid dalam masalah aqidah ini banyak pendapat Ulama.

Referensi:


وَالْجَوَابُ عَنِ الْأَوَّلِ أَنَّ الْمَذْمُومَ مِنَ التَّقْلِيدِ أَخْذُ قَوْلِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ حُجَّةٍ وَهَذَا لَيْسَ مِنْهُ حُكْمِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ اللَّهَ أَوْجَبَ اتِّبَاعَهُ فِي كُلِّ مَا يَقُولُ وَلَيْسَ الْعَمَلُ فِيمَا أَمَرَ بِهِ أَوْ نَهَى عَنْهُ دَاخِلًا تَحْتَ التَّقْلِيدِ الْمَذْمُومِ اتِّفَاقًا .
“Dan jawaban untuk argumen yang pertama: Bahwa taklid yang tercela adalah mengambil (mengikuti) pendapat orang lain tanpa adanya hujah (dalil/dasar hukum). Sementara itu, ketetapan hukum dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak termasuk ke dalam hal tersebut (taklid yang tercela). Sebab, Allah telah mewajibkan untuk mengikuti beliau dalam setiap apa pun yang beliau ucapkan. Oleh karena itu, mengamalkan apa yang beliau perintahkan atau apa yang beliau larang secara kesepakatan ulama (ittifaq) tidaklah masuk ke dalam kategori taklid yang tercela”.
[Fath Al Baariy Li Ibn Hajar XIII/351]

Lihat pula berbagai pendapat tentang taqlid dalam masalah aqidah di kitab Tuhfah Al Muriid Ala Syarh Jauhar At Tauhiid karangan Syeikh Al Bajuri.

2. Khathib tidak disyaratkan memahami setiap rukun khutbah dan tidak pula jama'ah yang mendengar karena yang wajib memperdengarkan kepada jama'ah Jum'at. Sehingga bila Khathib tidak tahu makna rukun khutbah yang ia baca seperti bacaan Wasiat taqwa dan lainnya maka khutbahnya sah bahkan tidak disyaratkan pula si Khathib tahu rukunnya bahkan tidak bisa membedakan antara rukun dan sunah khutbah khutbah sah. Namun, ada pendapat yang mensyaratkan Khathib harus mengetahui makna dari rukun khutbah yang ia baca yaitu pendapat Imam Az Zarkasyi. Namun, pendapat Mayoritas Ulama Syafi'iyah tidak mensyaratkan.

Referensi:

(قَوْلُهُ وَلَا فَهْمُهُمْ لِمَا يَسْمَعُونَهُ) وَكَذَا الْخَطِيبُ نَفْسُهُ كَمَا لَا يُشْتَرَطُ فَهْمُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ وَلَا تَمْيِيزُ فُرُوضِهَا مِنْ سُنَنِهَا اهـ كُرْدِي قَالَ ع ش بَلْ لَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَةُ الْخَطِيبِ أَرْكَانَ الْخُطْبَةِ مِنْ سُنَنِهَا كَمَا فِي فَتَاوَى م ر كَالصَّلَاةِ لَكِنْ يُشْتَرَطُ إِسْمَاعُ الْأَرْبَعِينَ رُكْنَ الْخُطْبَةِ فِي آنٍ وَاحِدٍ فَمَا يَظْهَرُ حَتَّى لَوْ سَمِعَ بَعْضُ الْأَرْبَعِينَ بَعْضًا وَانْصَرَفَ فَجَاءَ غَيْرُهُمْ فَأَعَادَ عَلَيْهِمْ لَمْ يَكْفِ اهـ
“(Perkataan Pengarang "Dan tidak disyaratkan pemahaman mereka terhadap apa yang mereka dengar"): Demikian pula halnya dengan khatib itu sendiri (tidak disyaratkan paham maksudnya), sebagaimana tidak disyaratkan memahami rukun-rukun shalat dan tidak pula membedakan mana yang fardhu dan mana yang sunnah. Selesai nukilan dari Kurdi. Ali Syibramalisy berkata: Bahkan tidak disyaratkan bagi khatib untuk mengetahui (secara detail) pemisahan antara rukun-rukun khutbah dari sunnah-sunnahnya sebagaimana terdapat dalam Fatawa Muhammad Ramli, sama seperti perkara shalat. Akan tetapi, disyaratkan memperdengarkan rukun khutbah kepada 40 orang jamaah secara bersamaan, sejauh yang tampak jelas. Sehingga, apabila sebagian dari 40 orang tersebut mendengar sebagian khutbah lalu mereka pergi, kemudian datang jamaah yang lain lalu khatib mengulangi khutbahnya kepada mereka, maka hal itu tidaklah mencukupi. Selesai”.
[Tarsyiih Al Mustafidin Bi Tausyieh Fath Al Mu'in Halaman 120]

وَلَا يَضُرُّ عَدَمُ فَهْمِ مَعْنَاهُمَا حَتَّى فِي حَقِّ الْخَطِيبِ كَمَنْ يَؤُمُّ الْقَوْمَ وَلَا يَعْرِفُ مَعْنَى الْفَاتِحَةِ
“Dan tidak membahayakan (tidak membatalkan keabsahan) ketidakpahaman akan makna dari keduanya (dua khutbah), bahkan dalam hak sang khatib sekalipun; hal ini seperti orang yang mengimami suatu kaum (shalat jamaah) padahal ia tidak mengetahui makna dari surat Al-Fatihah”.
[Nihaayah Az Zain Halaman 145]

وَلَا يُشْتَرَطُ أَنْ يَعْرِفَ الْخَطِيبُ مَعْنَى أَرْكَانِ الْخُطْبَةِ خِلَافًا لِلزَّرْكَشِيِّ كَمَنْ يَؤُمُّ الْقَوْمَ وَلَا يَعْرِفُ مَعْنَى الْفَاتِحَةِ.
“Dan tidak disyaratkan Khathib mengetahui makna rukun khutbah berbeda menurut Az-Zarkasyi sebagaimana seseorang mengimami suatu kaum dan ia sendiri tidak mengetahui makna Al Fatihah”.
[Mughni Al Muhtaaj I/553]

(مَسْأَلَةٌ ك) لَا يُشْتَرَطُ فَهْمُ أَرْكَانِ الْخُطْبَةِ لِلْمُسْتَمِعِينَ بَلْ وَلَا لِلْخَطِيبِ نَفْسِهِ خِلَافًا لِلْقَاضِي ، كَمَا لَا يُشْتَرَطُ فَهْمُ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ وَلَا تَمْيِيزُ فُرُوضِهَا مِنْ سُنَنِهَا اهـ. قُلْتُ : بَلْ وَلَا يُشْتَرَطُ مَعْرِفَةُ الْخَطِيبِ أَرْكَانَ الْخُطْبَةِ مِنْ سُنَنِهَا كَمَا فِي فَتَاوَى (م ر) كالصَّلَاةِ ، لَكِنْ يُشْتَرَطُ إِسْمَاعُ الْأَرْبَعِينَ أَرْكَانَ الْخُطْبَةِ فِي آنٍ وَاحِدٍ فِيمَا يَظْهَرُ ، حَتَّى لَوْ سَمِعَ بَعْضُ الْأَرْبَعِينَ بَعْضَهَا وَانْصَرَفَ وَجَاءَ غَيْرُهُمْ فَأَعَادَ عَلَيْهِمْ لَمْ يَكْفِ ، قَالَهُ ع ش.
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 82]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama