2184. MACAM-MACAM BENTUK BACAAN SAAT I'TIDAL

(Foto: Facebook)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum

Apakah di madzhab syafi'i bacaan i'tidal itu robbana lakal hamd atau robbana walakal hamd? 

Terimakasih
[+62 823-1713-7563]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Shighat (bentuk bacaan) ketika sempurna berdiri I'tidal sebagaimana yang ditanyakan yaitu antara رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ atau رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ keduanya merupakan bacaan ketika berdiri I'tidal yang disyariatkan dalam Madzhab Syafi'i. Namun, yang lebih utama adalah shighat yang pertama yaitu: رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ dan bacaan itu merupakan sama amalkan sedari dulu dan amalan kebanyakan orang yang saya ketahui, bacaan itu pula dianggap Afdhal oleh sang dua Syaikh dalam Madzhab Syafi'i yaitu Imam Nawawi dan Imam Rafi'i, juga Ulama lainnya seperti Syeikh Sa'id Ba'isyan. Akan tetapi, Nas Imam Syafi'i sendiri sang pendiri atau pencetus Madzhab Syafi'i memilih atau menyukai Shighat yang kedua yaitu: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. Oleh karena itu, menanggapi pertanyaan yang diajukan maka kedua shighat bacaan ketika I'tidal yang ditanyakan itu adalah bacaan yang disyariatkan namun beberapa Ulama Syafi'iyah menganggap Afdhal yang pertama, walaupun menurut Imam Syafi'i adalah bentuk bacaan yang kedua. 

Lengkapnya, bentuk bacaan ketika sempurna berdiri I'tidal ada 7 bentuk sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Al Bajuri, Yaitu:

1. رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

2. رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

3. اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

4. اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

5. لَكَ الْحَمْدُ رَبَّنَا

6. الْحَمْدُ لِرَبِّنَا

7. لِرَبِّنَا الْحَمْدُ

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

(قَوْلُهُ: رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ) أَوْ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، أَوْ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ أَوْ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ أَوْ لَكَ الْحَمْدُ رَبَّنَا أَوْ الْحَمْدُ لِرَبِّنَا أَوْ لِرَبِّنَا الْحَمْدُ، فَالصِّيَغُ سَبْعٌ وَالْأَوَّلُ أَفْضَلُ عِنْدَ الشَّيْخَيْنِ لِوُرُودِ السُّنَّةِ بِهِ وَإِنْ قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْأُمِّ: الثَّانِي أَعْنِي رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَهُوَ الْأَحَبُّ إِلَيَّ، لِأَنَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَ مَعْنَيَيْنِ الدُّعَاءِ وَالِاعْتِرَافِ، لِأَنَّ التَّقْدِيرَ رَبَّنَا اسْتَجِبْ لَنَا وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى هِدَايَتِكَ إِيَّانَا أَوْ رَبَّنَا أَطَعْنَاكَ وَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى تَوْفِيقِكَ لَنَا.
“(Perkataan Pengarang "Rabbana lakal hamdu") atau Rabbana wa lakal hamdu, atau Allahumma Rabbana lakal hamdu, atau Allahumma Rabbana wa lakal hamdu, atau Lakal hamdu Rabbana, atau Alhamdu lirabbina, atau Lirabbinal hamdu.

Maka bentuk redaksinya ada tujuh. Redaksi yang pertama adalah yang paling utama menurut Syekhain (Imam Nawawi dan Imam Rafi'i) karena adanya sunah (dalil hadis) yang datang dengannya. Walaupun Imam Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata dalam kitab al-Umm: 'Redaksi kedua—yaitu Rabbana wa lakal hamdu—adalah yang paling aku sukai, karena redaksi tersebut mengumpulkan dua makna: doa dan pengakuan (pengakuan atas nikmat). Sebab takdir (makna tersiratnya) adalah: 'Wahai Tuhan kami, kabulkanlah doa kami, dan bagi-Mu segala pujian atas petunjuk-Mu kepada kami', atau 'Wahai Tuhan kami, kami telah menaati-Mu, dan bagi-Mu segala pujian atas taufik-Mu kepada kami'.”.
[Hasyiyah Al Bajuri Ala Ibnu Qasiim I/170]

(فَصْلٌ: وَيُسَنُّ) لِكُلِّ مُصَلٍّ (إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ) أَيْ عِنْدَ ابْتِدَاءِ رَفْعِ رَأْسِهِ (لِلِاعْتِدَالِ) أَنْ يَقُولَ مَعَ رَفْعِ يَدَيْهِ: (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ) عَلَى مَا مَرَّ (فَإِذَا اسْتَوَى قَائِمًا قَالَ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ) أَوْ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ أَوْ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ أَوْ وَلَكَ الْحَمْدُ أَوْ الْحَمْدُ لِرَبِّنَا وَأَفْضَلُهَا الْأَوَّلُ.
“('Dan disunahkan) bagi setiap orang yang shalat ('apabila ia mengangkat kepalanya') maksudnya: pada saat awal mengangkat kepalanya ('untuk I'tidal') hendaknya ia mengucapkan bersamaan dengan mengangkat kedua tangannya: ('Sami'allahu liman hamidah') sebagaimana keterangan yang telah lalu.

('Maka apabila ia telah berdiri tegak, ia mengucapkan: Rabbana lakal hamdu') atau Rabbana wa lakal hamdu, atau Allahumma Rabbana laka [hamdu] atau [Allahumma Rabbana] wa lakal hamdu, atau Alhamdu lirabbina. Dan yang paling utama dari semua redaksi tersebut adalah yang pertama”.
[Busyral Kariim I/79]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama