2198. WANITA HAID MENGIKUTI BELAJAR KITAB KUNING, BOLEHKAH

(Foto: islami.co)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamu'alaikum,, 
Yai / Ustadz,, 
Izin bertanya, 
Bagaimana hukumnya seorang santri putri atau ibu² yang ikut pengajian kitab kuning, 
Misalnya santri Putri ikut pengajian membawa kitab kuning fiqih, hadits atau lainnya, kemudian kemudian ikut nyoret (melogat) kitab tersebut dengan keadaan sedang Haid. 
Mohon pencerahan nya.. 🙏
[𝗔𝗳_𝗞𝘂𝗹𝗯𝗮]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Pertanyaan kali ini lebih difokuskan kepada perempuan khususnya mereka yang mendalami ilmu dengan langsung kepada kitab fiqih khususnya Kitab kuning. Untuk itu masalah ini ada tafsil 

Syeikh 𝙉𝙖𝙬𝙖𝙬𝙞 𝘼𝙡-𝘽𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣𝙞 𝘼𝙡-𝙅𝙖𝙬𝙞 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗎𝗍𝗂𝗉 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺𝖺𝗇 𝙄𝙢𝙖𝙢 𝙉𝙖𝙬𝙖𝙬𝙞 salah seorang Ulama yang pendapatnya menjadi pegangan Ulama Syafi'iyah setelah beliau dimana 𝙄𝙢𝙖𝙢 𝙉𝙖𝙬𝙖𝙬𝙞 menyebutkan bahwa bila kitab Ilmu Syar'i seperti Fiqih yang memuat ayat Al Qur'an maka tidak haram menyentuh dan membawanya karena bukan dikategorikan sebagai mushaf, walaupun menurut satu wajah (pendapat) menghukumi haram. Adapun kitab Hadis yang juga memuat ayat Al Qur'an seperti Shahih Bukhari, Muslim dan lainnya juga tidak haram menyentuhnya menurut pendapat yang dijadikan Madzhab. Tapi bila tidak memuat ayat Al Qur'an maka boleh disentuh dan dibawa orang hadas kendatipun sebaiknya tidak melakukan kecuali dalam keadaan suci. Namun, pengarang kitab 𝘈𝘵-𝘛𝘢𝘵𝘪𝘮𝘮𝘢𝘩 menyebutkan bahwa bila kita tidak berpendapat haram tapi Makruh.

Pada bagian lain 𝙄𝙢𝙖𝙢 𝙉𝙖𝙬𝙖𝙬𝙞 menyebutkan dengan menyamakan Kitab fiqih dengan kitab tafsir Al Quran yang kebolehan menyentuh dan membawanya bagi orang yang berhadas - Termasuk wanita haid dan nifas - ditafsil: Bila ayat Al Qur'an didalamnya lebih dominan ketimbang ulasan ulasan fiqih atau tafsir maka haram disentuh dan dibawa orang hadas dan jika sebaliknya yakni ulasan fiqih dan tafsir lebih dominan ketimbang ayat Al Qur'an maka boleh disentuh dan dibawa orang hadas. Inilah pendapat yang Shahih. Selanjutnya 𝙄𝙢𝙖𝙢 𝙉𝙖𝙬𝙖𝙬𝙞 menyebutkan pendapat kedua dan ketiga:

° Pendapat kedua: Haram
° Pendapat ketiga: Jika Al-Qur'an ditulis dengan tulisan yang berbeda secara lafal, yaitu mengelompok tersendiri atau ditulis dengan tinta merah dan sejenisnya, maka haram. Namun jika tidak dibedakan, maka tidak haram.

Sementara Syeikh 𝘽𝙖'𝙖𝙡𝙖𝙬𝙞 𝘼𝙡-𝙃𝙖𝙙𝙝𝙧𝙖𝙢𝙞 mengutip pernyataan Syeikh 𝘼𝙗𝙪 𝘽𝙖𝙠𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙣 𝙔𝙖𝙝𝙮𝙖 (𝙄𝙗𝙣𝙪 𝙔𝙖𝙝𝙮𝙖) yang menyatakan semacam orang junub boleh menyentuh, membawa dan membaca kitab Taurat, hadis Qudsi, kitab Ilmu dan hadis. Pernyataan ini secara tidak langsung juga memberlakukan wanita haid dan nifas kepada hukum tersebut karena penjabaran Ulama Syafi'iyah menyebutkan bahwa apa yang diharamkan oleh orang junub juga diharamkan wanita haid dan tidak sebaliknya. Sehingga hukum kebolehan diatas juga berlaku bagi wanita haid dan nifas.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat 𝗱𝗶𝘀𝗶𝗺𝗽𝘂𝗹𝗸𝗮𝗻 bahwa wanita haid dan umumnya wanita mengalami hadas seperti nifas dan wiladah boleh ikut pengajian dengan menyentuh, membawa kitab fiqih dan hadis juga membacanya asal dapat dipastikan kitab fiqih itu memuat ayat Al Qur'an lebih sedikit ketimbang uraian fiqih dan atau hadis jika pada kitab hadis, bahkan boleh juga membacanya dan jika ada ayat Al Qur'an tidak bermaksud membaca Al Qur'an. Namun, jika Ayat Al Qur'an lebih banyak ketimbang uraian fiqih atau hadis maka tidak boleh mereka membawa dan menyentuh kitab tersebut. Inilah pendapat yang kuat. Akan tetapi, kalau semacam kitab fiqih umumnya seperti I'aanah, Bajuri dan semisalnya dapat dipastikan uraian fiqihnya lebih banyak ketimbang ayat Al Qur'an maka berdasarkan pendapat yang kuat boleh disentuh dan dibawa oleh orang hadas seperti junub dan haid, apalagi kitab matan seperti Fathul Mu'in, Fathul Qariib dan semisalnya. Itu semua jika pengajiannya selain di masjid dan jika di Masjid tidak boleh, bukan dari segi menyentuh, membawa dan membaca kitab yang dikaji tapi dari segi berdiam diri di masjid. Semoga dapat dipahami sebagaimana mestinya.

𝗗𝗮𝘀𝗮𝗿 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻:

قَالَ النَّوَوِيُّ إِذَا مَسَّ الْمُحْدِثُ أَوِ الْجُنُبُ أَوِ الْحَائِضُ أَوْ حَمَلَ كِتَابًا مِنْ كُتُبِ الْفِقْهِ أَوْ غَيْرِهِ مِنَ الْعُلُومِ وَفِيهِ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ أَوْ ثَوْبًا مُطَرَّزًا بِالْقُرْآنِ أَوْ دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ مَنْقُوشَةً بِهِ أَوْ مَسَّ الْجِدَارَ أَوِ الْحُلْوَ أَوِ الْخُبْزَ الْمَنْقُوشَ فِيهِ فَالْمَذْهَبُ الصَّحِيحُ جَوَازُ هَذَا كُلِّهِ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِمُصْحَفٍ وَفِيهِ وَجْهٌ أَنَّهُ حَرَامٌ وَقَالَ أَقْضَى الْقُضَاةِ أَبُو الْحَسَنِ الْمَاوَرْدِيُّ فِي كِتَابِهِ الْحَاوِي يَجُوزُ مَسُّ الثِّيَابِ الْمُطَرَّزَةِ بِالْقُرْآنِ وَلَا يَجُوزُ لُبْسُهَا بِلَا خِلَافٍ لِأَنَّ الْمَقْصُودَ بِلُبْسِهَا التَّبَرُّكُ بِالْقُرْآنِ وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ ضَعِيفٌ لَمْ يُوَافِقْهُ أَحَدٌ عَلَيْهِ فِيمَا رَأَيْتُهُ بَلْ جَزَمَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيُّ وَغَيْرُهُ بِجَوَازِ لُبْسِهَا وَهَذَا هُوَ الصَّوَابُ وَاللَّهُ أَعْلَمُ وَأَمَّا كُتُبُ التَّفْسِيرِ وَالْفِقْهِ فَإِنْ كَانَ الْقُرْآنُ فِيهَا أَكْثَرَ مِنْ غَيْرِهِ حَرُمَ مَسُّهَا وَحَمْلُهَا وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ أَكْثَرَ كَمَا هُوَ الْغَالِبُ فَفِيهِ ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ أَصَحُّهَا لَا يَحْرُمُ وَالثَّانِي يَحْرُمُ وَالثَّالِثُ إِنْ كَانَ الْقُرْآنُ بِخَطٍّ مُتَمَيِّزٍ بِلَفْظٍ أَيْ بِاجْتِمَاعٍ أَوْ حُمْرَةٍ وَنَحْوِهَا حَرُمَ وَإِنْ لَمْ يَتَمَيَّزْ لَمْ يَحْرُمُ قَالَ صَاحِبُ التَّتِمَّةِ مِنْ أَصْحَابِنَا إِذَا قُلْنَا لَا يَحْرُمُ فَهُوَ مَكْرُوهٌ وَأَمَّا كُتُبُ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهَا آيَاتٌ مِنَ الْقُرْآنِ فَلَا يَحْرُمُ مَسُّهَا، وَالْأَوْلَى أَنْ تُمَسَّ عَلَى طَهَارَةٍ، وَإِنْ كَانَ فِيهَا آيَاتٌ فَلَا يَحْرُمُ عَلَى الْمَذْهَبِ بَلْ يُكْرَهُ.
“Imam An-Nawawi berkata: 'Apabila orang yang berhadas, junub, atau haid menyentuh atau membawa kitab fikih atau kitab ilmu lainnya yang di dalamnya terdapat ayat Al-Qur'an, atau pakaian yang disulam dengan ayat Al-Qur'an, atau uang dirham dan dinar yang diukir dengannya, atau menyentuh dinding, manisan, atau roti yang diukir padanya (ayat Al-Qur'an), maka menurut pendapat mazhab yang sahih hukumnya adalah boleh untuk semua hal tersebut karena itu bukan mushaf. Namun, ada satu wajah (pendapat internal mazhab) yang menyatakan hukumnya haram.'

Aqdal Qudat (Hakim Agung) Abu al-Hasan al-Mawardi berkata dalam kitabnya Al-Hawi: 'Boleh menyentuh pakaian yang disulam dengan Al-Qur'an, tetapi tidak boleh memakainya tanpa ada khilaf (perbedaan pendapat), karena maksud dari memakainya adalah mencari berkah dengan Al-Qur'an.' Namun, apa yang beliau katakan ini adalah pendapat yang lemah, tidak ada seorang pun yang menyetujuinya sejauh yang saya ketahui. Sebaliknya, Syaikh Abu Muhammad al-Juwayni dan ulama lainnya memastikan bolehnya memakai pakaian tersebut, dan inilah pendapat yang benar, Wallahu a'lam.

Adapun kitab-kitab tafsir dan fikih:
° Jika teks Al-Qur'an di dalamnya lebih banyak daripada teks selainnya, maka haram menyentuh dan membawanya.
° Jika teks selain Al-Qur'an lebih banyak—sebagaimana umumnya—maka di dalamnya ada tiga pendapat (wajah):
° Pendapat yang paling Shahih: Tidak haram.
° Pendapat kedua: Haram.
° Pendapat ketiga: Jika Al-Qur'an ditulis dengan tulisan yang berbeda secara lafal, yaitu mengelompok tersendiri atau ditulis dengan tinta merah dan sejenisnya, maka haram. Namun jika tidak dibedakan, maka tidak haram.

Penulis kitab At-Tatimmah dari kalangan sahabat kami (ulama Syafiiyah) berkata: 'Jika kita katakan tidak haram, maka hukumnya adalah makruh.'

Adapun kitab-kitab hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
° Jika di dalamnya tidak terdapat ayat-ayat Al-Qur'an, maka tidak haram menyentuhnya, namun yang lebih utama (aula) adalah menyentuhnya dalam keadaan suci (berwudu).
° Dan jika di dalamnya terdapat ayat-ayat (Al-Qur'an), maka (juga) tidak haram menurut pendapat resmi mazhab (al-madzhab), melainkan hukumnya makruh”.
[Kaasyifah As Sajaa Fii Syarh Safiinah An Najaa Halaman 33]

 (مَسْأَلَةٌ ي) يُكْرَهُ حَمْلُ التَّفْسِيرِ وَمَسُّهُ إِنْ زَادَ عَلَى الْقُرْآنِ وَإِلَّا حَرُمَ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَلَى نَحْوِ جُنُبٍ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِهَا لِامْتِنَاعِ الْإِطْلَاقِ عَلَى الرَّاجِحِ وَلَا يَقْصِدُ غَيْرَ الْقِرَاءَةِ كَرَدِّ غَلَطٍ وَتَعَلُّمٍ وَتَبَرُّكٍ وَدُعَاءٍ وَيَجُوزُ لَهُ حَمْلُ وَمَسُّ وَقِرَاءَةُ نَحْوِ التَّوْرَاةِ وَالْحَدِيثِ الْقُدْسِيِّ وَكُتُبِ الْعِلْمِ وَالْحَدِيثِ
“(Masalah Ya - Fatwa Syeikh Abu Bakar Ibnu Yahya -) Dimakruhkan membawa kitab tafsir dan menyentuhnya jika (teks tafsir/penjelasannya) lebih banyak daripada teks Al-Qur'an, dan jika tidak lebih banyak, maka hukumnya haram. Dan (diharamkan) membaca Al-Qur'an bagi orang yang semisal junub dengan maksud membaca, meskipun dibarengi dengan maksud lainnya, karena ketidakbolehan kemutlakan (pembatasan) menurut pendapat yang rajih (kuat). Dan (tidak diharamkan jika) ia tidak bermaksud membaca (Al-Qur'an secara murni), melainkan seperti membenarkan bacaan yang salah, belajar, mencari berkah, atau berdoa. Dan boleh bagi orang junub membawa, menyentuh, serta membaca kitab-kitab seperti Taurat, Hadis Qudsi, kitab-kitab ilmu, dan kitab hadis.”
[Bughyah Al Mustarsyidiin Halaman 26]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama