(Foto: Wayground)
𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum yi,izin bertanya,selepas sholat Jumat tadi,ada teman saya yg berkata sholat Jumat nya g sah, alasannya karena mesjid kami sholat berada di dalam lingkungan pabrik,yg jemaahnya semua adalah pekerja pabrik,harus di tutupi dgn sholat zhuhur, lantas teman ku yg lain berkata bahwa sholat Jumat yg kami kerjakan tadi sah, menurut imam Malik, katanya kita boleh taklid kepada imam lain,dan tidak perlu sholat zhuhur lagi,izin yi apakah ini benar
[𝗢𝗯𝗶𝗲𝗢𝗯𝗶𝗲𝗻𝘇𝗮 𝗡𝘀𝘁]
𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
1. 𝗠𝗮𝗱𝘇𝗵𝗮𝗯 𝗦𝘆𝗮𝗳𝗶'𝗶
Jama'ah Jum'at tanpa penduduk asli di Madzhab Syafi'i baca selengkapnya disini 👇
2. 𝗠𝗮𝗱𝘇𝗵𝗮𝗯 𝗠𝗮𝗹𝗶𝗸𝗶
Saya kurang tahu adanya pendapat di Madzhab Maliki apalagi Mutlak di Madzhab Maliki shalat Jum'at tanpa penduduk asli (Mustauthin) sah Sebagaimana teman sampeyan sebutkan. Namun, keterangan Ulama Malikiyyah yang saya temukan malah sebaliknya yaitu shalat Jum'at tanpa penduduk asli adalah tidak sah.
[شُرُوط صِحَّة الْجُمُعَةِ]
قَوْلُهُ: [إذْ كُلُّ شَرْطٍ مِنْهَا لَهُ شُرُوطٌ] : عِلَّةٌ لِقَوْلِهِ: (خَمْسَةٌ) إجْمَالًا. وَحَاصِلُ ذَلِكَ أَنَّ شُرُوطَ الصِّحَّةِ إجْمَالًا خَمْسَةٌ: أَوَّلُهَا الِاسْتِيطَانُ وَلَهُ شَرْطَانِ: أَنْ يَكُونَ بِبَلَدٍ أَوْ أَخْصَاصٍ، وَأَنْ يَكُونَ بِجَمَاعَةٍ تَتَقَرَّى بِهِمْ تِلْكَ الْقَرْيَةُ عَادَةً بِالْأَمْنِ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَالِاسْتِغْنَاءِ إلَى آخِرِ مَا قَالَ الشَّارِحُ. وَالشَّرْطُ الثَّانِي: حُضُورُ اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا؛ وَلَهُ ثَلَاثَةُ شُرُوطٍ: الْأَوَّلُ: كَوْنُهُمْ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ. الثَّانِي: بَقَاؤُهُمْ مِنْ أَوَّلِ الْخُطْبَتَيْنِ لِلسَّلَامِ. الثَّالِثُ: كَوْنُهُمْ مَالِكِيِّينَ أَوْ حَنَفِيِّينَ أَوْ شَافِعِيِّينَ مُقَلِّدِينَ لِمَالِكٍ أَوْ أَبِي حَنِيفَةَ، وَإِنْ لَمْ يَنُصَّ عَلَى هَذَا الشَّارِحُ، وَالشَّرْطُ الثَّالِثُ: الْإِمَامُ. وَلَهُ شَرْطَانِ: كَوْنُهُ مُقِيمًا إنْ لَمْ يَكُنْ هُوَ الْخَلِيفَةُ. وَكَوْنُهُ الْخَاطِبَ إلَّا لِعُذْرٍ؛ وَالشَّرْطُ الرَّابِعُ: الْخُطْبَتَانِ وَذَكَرَ الشَّارِحُ لَهُمَا شُرُوطًا ثَمَانِيَةً، وَيُزَادُ تَاسِعٌ: وَهُوَ اتِّصَالُهُمَا بِالصَّلَاةِ. وَالشَّرْطُ الْخَامِسُ: الْجَامِعُ وَلَهُ شُرُوطٌ أَرْبَعٌ كَمَا قَالَ الشَّارِحُ. فَتَكَامَلَ تَفْصِيلُ شُرُوطِ الصِّحَّةِ خَمْسَةً وَعِشْرِينَ.
“[SHARAT-SYARAT SAH SHALAT JUM'AT]
Ucapan Imam Al-Dardir: [Karena setiap syarat dari hal-hal tersebut memiliki syarat-syaratnya lagi] : Ini adalah illah (alasan) bagi ucapannya: (Lima) secara garis besar (ijmalan).
Maka kesimpulannya, bahwa syarat sah shalat Jum'at secara garis besar ada 5, yaitu:
° Syarat Pertama: Al-Isti'than (Bertempat tinggal tetap/Penduduk asli). Syarat ini memiliki 2 syarat lagi:
1. Harus bertempat di kota/desa atau pemukiman rumah gubuk (akhshash).
2. Harus berupa sebuah komunitas jamaah yang mana desa tersebut secara adat dapat makmur/berdiri sendiri (tataqarra) dengan keberadaan mereka, yang ditandai dengan adanya rasa aman pada diri mereka serta tercukupinya kebutuhan mereka, hingga akhir dari apa yang dikatakan oleh pensyarah (As-Syarikh).
° Syarat Kedua: Kehadiran 12 orang laki-laki. Syarat ini memiliki 3 syarat lagi:
1. Keberadaan mereka harus termasuk dari penduduk asli daerah tersebut (ahlul balad).
2. Mereka harus tetap bertahan (di tempat) sejak awal dua khutbah hingga salam selesai dilakukan.
3. Mereka harus bermadzhab Maliki, atau bermadzhab Hanafi, atau bermadzhab Syafi'i yang bertaklid kepada Imam Malik atau Imam Abu Hanifah—meskipun pensyarah tidak menyatakan hal ini secara tekstual.
° Syarat Ketiga: Adanya Imam. Syarat ini memiliki 2 syarat lagi:
1. Sang imam harus berstatus sebagai orang yang mukim (bukan musafir), jika dia bukan seorang Khalifah (pemimpin tertinggi umat Islam).
2. Sang imam harus merupakan orang yang berkhutbah juga, kecuali jika ada udzur.
° Syarat Keempat: Dua Khutbah. Pensyarah menyebutkan ada 8 syarat bagi dua khutbah ini, dan ditambahkan syarat yang ke-9: yaitu bersambungnya dua khutbah tersebut dengan pelaksanaan shalat (tanpa jeda lama).
° Syarat Kelima: Masjid Jami'. Syarat ini memiliki 4 syarat lagi sebagaimana yang dijelaskan oleh pensyarah.
Maka secara total, rincian dari syarat-syarat sah shalat Jum'at ini seluruhnya berjumlah 25 syarat”.
[Hasyiyah As Shawi Ala Syarh As Shaghir I/495]
وَالْحَاصِلُ أَنَّ اسْتِيطَانَ بَلَدِهَا أَيْ كَوْنُ الْبَلَدِ مُسْتَوْطَنَةً شَرْطُ صِحَّةٍ وَاسْتِيطَانُ الشَّخْصِ فِي نَفْسِهِ شَرْطُ وُجُوبٍ، وَيَنْبَنِي عَلَى هَذَا كَمَا قَالَ ابْنُ الْحَاجِبِ أَنَّهُ لَوْ مَرَّتْ جَمَاعَةٌ بِقَرْيَةٍ خَالِيَةٍ فَنَوَوْا الْإِقَامَةَ فِيهَا شَهْرًا وَصَلَّوْا الْجُمُعَةَ بِهَا لَمْ تَصِحَّ لَهُمْ كَمَا لَا تَجِبُ عَلَيْهِمْ وَاعْلَمْ أَنَّهُ مَتَى كَانَتْ الْبَلَدُ مُسْتَوْطَنَةً وَالْجَمَاعَةُ مُسْتَوْطِنَةً وَجَبَتْ عَلَيْهِمْ وَصَحَّتْ مِنْهُمْ مُطْلَقًا
“Walhasil (Kesimpulannya): Bahwa isti'than dari sisi daerahnya—yaitu keberadaan daerah tersebut sebagai pemukiman penduduk tetap—merupakan SYARAT SAH. Sedangkan isti'than dari sisi kedirian personalnya merupakan syarat wajib. Dan dibangunlah sebuah cabang hukum atas kaidah ini, sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu al-Hajib: Bahwasanya sekiranya ada sekelompok jama'ah (pendatang) melewati sebuah desa yang kosong (tidak ada penduduk tetapnya), lalu mereka berniat menetap di sana selama satu bulan dan mendirikan shalat Jum'at di desa tersebut, maka shalat Jumatnya TIDAK SAH bagi mereka, sebagaimana shalat Jum'at itu sendiri memang tidak wajib atas mereka. Dan ketahuilah, kapan saja suatu daerah/kota berstatus dihuni penduduk tetap, dan jama'ah yang shalat di sana juga berstatus penduduk tetap, maka shalat Jum'at wajib atas mereka dan sah dilakukan oleh mereka secara mutlak”.
[Hasyiyah Ad Dasuqi Ala Syarh Al Kabir I/373]
Berdasarkan dua ibarat diatas maka shalat Jum'at tanpa penduduk asli dalam Madzhab Maliki adalah tidak sah. Namun, itu sejauh pengetahuan saya, sekiranya memang ada pendapat yang Mengabsahkan di Madzhab Maliki shalat Jum'at tanpa penduduk asli lalu penganut Madzhab Syafi'i mau bertaqlid kepada pendapat itu memang diperbolehkan tapi tidak semudah membalikkan telapak tangan tapi harus memenuhi ketentuan taqlid. Adapun syarat agar taqlidnya sah baca selengkapnya disini 👇
Wallahu A'lamu Bis Shawaab
(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)
𝓛𝓲𝓷𝓴 𝓐𝓼𝓪𝓵>>
