2204. HUKUM MENGULANG IJAB QABUL AKAD NIKAH SEBANYAK TIGA KALI

(Foto: pngtree)

𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮𝗮𝗻:
Assalamualaikum.. Adakah keterangannya
Masalah ijab dan qobul dalam akad nikah di lakukan tiga kali. Dengan alasan agar kuat dalam ikatan rumah tangganya ( tidak cerai ) ? 🙏🏽🙏🏽
[𝗭𝗮𝗶𝗻 𝗙𝗮𝘂𝘇]

𝗝𝗮𝘄𝗮𝗯𝗮𝗻:
Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh 

Mengulang ijab Qabul sampai tiga kali dibenarkan sebagaimana diungkapkan oleh Syeikh Abu Makhramah:

يَنْبَغِيْ أَنْ يَتَصَافَحَ الْعَاقِدَانِ وَهُمَا الْوَلِيُّ وَالزَّوْجُ مَنْ يُلَقِّنُهُمَا الْعَقْدَ قَوْلًا: بِسْمِ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا مُحَمَّدٍ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ – إِلَى أَنْ قَالَ – ثُمَّ يَقُوْلُ الْوَلِيُّ لِلْخَاطِبِ أَيْضًا: يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ أَنْكَحْتُكَ بِنْتِيْ أَوْ مُوَلِّيَتِيْ فُلَانَةَ الْمَذْكُوْرَةَ بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ، فَيَقُوْلُ الزَّوْجُ: قَبِلْتُ نِكَاحَهَا بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ، ثُمَّ يَقُوْلُ الْوَلِيُّ ثَالِثًا إِحْتِيَاطًا: يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ أَنْكَحْتُكَ بِنْتِيْ أَوْ مُوَلِّيَتِيْ فُلَانَةَ الْمَذْكُوْرَةَ بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ، فَيَقُوْلُ الزَّوْجُ: قَبِلْتُ نِكَاحَهَا بِالْمَهْرِ الْمَذْكُوْرِ.
“Seyogianya bagi dua orang yang melakukan akad nikah—yaitu wali dan calon suami—serta orang yang menuntun akad mereka, untuk mengucapkan (secara lisan): 'Bismillah, walhamdulillah, wash-sholatu was-salamu 'ala sayyidina wa habibina wa syafi'ina Muhammad, ushikum bitaqwallah...' (Dengan menyebut nama Allah, segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kami, kekasih kami, dan pemberi syafaat kami, Nabi Muhammad. Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah) – sampai pada perkataan mushannif –

Kemudian wali berkata kepada pelamar (calon suami): 'Wahai Fulan bin Fulan, aku nikahkan engkau dengan anak perempuanku (atau wanita yang berada di bawah kewalianku), si Fulanah yang telah disebutkan, dengan mahar yang telah disebutkan tersebut'. Lalu suami menjawab: 'Aku terima nikahnya dengan mahar yang telah disebutkan tersebut'. Kemudian wali mengucapkan hal itu untuk ketiga kalinya sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyath): 'Wahai Fulan bin Fulan, aku nikahkan engkau dengan anak perempuanku (atau wanita yang berada di bawah kewalianku), si Fulanah yang telah disebutkan, dengan mahar yang telah disebutkan tersebut'. Lalu suami menjawab: 'Aku terima nikahnya dengan mahar yang telah disebutkan tersebut'.”
[Misykaah Al Mishbaah Halaman 359]

Wallahu A'lamu Bis Shawaab

(Dijawab oleh: 𝗜𝘀𝗺𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗿𝗿𝗮𝗵𝗺𝗮𝗻 𝗔𝘀 𝗦𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶)

𝙇𝙞𝙣𝙠 𝘼𝙨𝙖𝙡>>

𝘼𝙧𝙩𝙞𝙠𝙚𝙡 𝙏𝙚𝙧𝙠𝙖𝙞𝙩>>

Komentari

Lebih baru Lebih lama